Archives for category: Uncategorized

Beberapa hari ini timeline fb dipenuhi status tentang pendaftaran siswa baru. Lalu ada beberapa teman yang mengeluh, karena murid yang jelas jelas mampu, bisa masuk sekolah yang disukai, hanya berbekal SKTM.

SKTM= surat keterangan tidak mampu. Miskin. Sebenarnya apa arti miskin? Kalau kemana mana pakai sepeda motor matic, punya anting emas, apa gak malu minta SKTM? Bahkan ada yang masih minta jatah beras zakat, padahal dia datang ke masjid naik motor baru.

Jangan sampai kita terjerumus dan punya mental miskin. Beasiswa yang harusnya hak dari mereka yang membutuhkan, malah diembat. Menjelang lebaran, sibuk ke sana sini demi mendapat THR yang bukan haknya.

Satu lagi yang sering dilakukan adalah menodong. Minta oleh oleh pada teman yang sedang travelling. Padahal ia menabung berbulan bulan demi biaya jalan jalan. Atau minta traktir pada teman yang sedang berulang tahun.
Saat mengasuh anak, ada pesawat terbang yang lewat. Lalu kita ajari nak, tuh ada pesawat. Pesawat, minta duit dong!. Duitnya siapa coba? Ini ajaran dari mana sih. Apa benar dulu ada pesawat terbang yang hobi kasih uang?

Walau konteksnya hanya bercanda, tapi secara tidak langsung itu menanamkan sesuatu di alam bawah sadar kita. Mental peminta minta. Mental miskin. Akhirnya? Miskin beneran. Tidaak!

Jadi gimana caranya biar kaya? Ya mindsetnya harus diubah. Bukankah tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah?

Orang yang bermental kaya gak akan ngaku ngaku miskin dengan membuat SKTM. Atau bingung cari THR.

Mereka yakin bahwa rejeki itu ada dan sudah disiapkan oleh-Nya. Jika mau berusaha dan bekerja keras. Bukan dengan cara meminta pada manusia.

Omong omong, anda punya akun telegram? Coba join channel-nya Pak Mardigu Wowiek. Ilmunya luar biasa. Berasa kuliah ekonomi, lalu manggut manggut. Ooh, cara pikir orang kaya memang beda. Beliau mengajak kita untuk selalu bermental kaya. Atau ikuti saja tagar #tajirmelintir dan #sadarkaya di instagram.

Jadi mau bermental miskin atau kaya? Saya yakin anda memilih yang terakhir.

 

 

Sebagai blogger, tentunya kamu suka nulis kan? Tapi kadang kita bingung, mau nulis apa lagi? Begitu ad ide, eh tulisan gak jadi jadi. Padahal sudah lebih dari 2 hari.

Sebenarnya ada banyak cara agar tulisan cepat selesai. Seperti ini:

a. Tetapkan deadline

Deadline membuat kita lebih disiplin. Serius! Walau nulis untuk media online atau offline (yang gak ada deadline), coba buat deadline sendiri. Misalnya, dalam sehari harus nulis minimal 500 kata.

Kalau sudah melewati deadline, baru boleh jalan jalan. Asyik kan.

b. Nulis dulu, edit kemudian

Yang bikin tulisan tak kunjung selesai adalah, setelah nulis, lalu dihapus. Kapan selesainya?

Jadi, tulis saja, kalau bisa jangan lihat ke layar laptop. Fokus pada keyboard dan ide tulisan. Setelah selesai, baru edit typonya, dan juga perhalus tulisannya.

c. Jauhkan dari sosmed dan chat

Apa yang bikin konsentrasi terbagi? Tiba tiba hp bergetar, ada chat yang masuk. Jadi untuk sementara, hpnya di-silent saja ya. Matikan akses internet untuk sementara.

Kalau kamu butuh referensi, cari dulu datanya. Baru matikan aliran internet. Nulis deh.

d. Apa manfaatnya bagimu?

Apa manfaat menulis bagimu? Sebagai obat stress, atau bahkan sarana mencari uang?

Cari alasan alasan untuk tetap menulis. Maka motivasimu akan bangkit.

Jadi, tunggu apalagi? Nulis yuuk.

Hari Senin tanggal 22 Januari 2018 kemarin, saya berkesempatan naik bus MACITO (Malang City Tour) bersama teman-teman sekelas di TK-nya Saladin. Sebenarnya, sang mama gak boleh ikut. Tapi saya malah disuruh ikut, karena harus jagain Saladin yang super aktif. Makasih ya nak, Mama diajak jalan-jalan.

Kami berangkat jam 7:30 pagi dari parkiran Tawira (Taman Wisata Rakyat) di belakang Balai Kota Malang. Bus bertingkat dua yang berkapasitas 40 orang dewasa langsung diserbu anak-anak. Karena penumpangnya kecil, bus ini bisa memuat 70 anak TK.

Lenovo_A1000_IMG_20180122_072817.jpg

Selfi dulu kita

Bus melaju melewati balai kota, menuju Jalan besar Ijen. Di sana, bus berhenti di depan Musium Brawijaya. Anak anak turun dari bus, lalu foto bersama. Sayangnya, Saladin tantrum karena dilarang naik di bagian atas bus. Jadi gak ada fotonya, hehehe.

Lenovo_A1000_IMG_20180122_082543.jpg

Ini dia bisnya. Banyak anak menamai MACITO dengan Rogi, karena warnanya hijau, mirip bus Rogi di serial Tayo.

Karena tidak tega, akhirnya salah satu guru mengizinkan Saladin naik ke atas bus. Saya pangku Saladin dan memeganginya erat erat. Bagi anda yang membawa anak kecil,jangan khawatir, karena di bagian bawah dan atas bus ada seatbelt di masing masing kursi. Pagar pengaman di bagian atas bus juga lumayan tinggi, sekitar satu meter. Jadi aman, walau anak-anak dilarang keras berdiri dan harus diawasi oleh orang dewasa.

 

Lenovo_A1000_IMG_20180122_083530.jpg

Ini pemandangan bagian atas bus. Yang terfoto itu salah satu guru Saladin, namanya Bu Fitri. Cantik ya :).

Kami melanjutkan perjalanan mengelilingi pusat kota Malang, berputar di dekat Gereja Jl Ijen, melewati Jl Bareng Kartini, dan berbelok ke arah Pasar Besar Malang. Di atas bus rasanya semriwing. Sejuk dan menyegarkan, apalagi cuaca pagi itu sangat cerah.

Akhirnya bus kembali lagi ke belakang balaikota. Perjalanannya hanya sekitar 90 menit saja. Saladin menangis karena tidak mau turun dari bus, hehehe.

Kalau mau naik MACITO, datang saja ke loketnya di dekat parkiran Tawira. Bukanya pukul 7 pagi, dan bus ini gratis. Tapi kalau mau naik rame rame dengan rombongan sekolah, harus booking dulu minimal 3 bulan sebelumnya.

Kamu suka naik bus? Kalau berwisata ke Malang, naik MACITO yuk!

Pernahkah hiatus alias vakum? Dalam hal ini, saya berbulan-bulan tidak menulis di blog. Di sini maupun di blog satunya yang sudah TLD.

Katanya mau jadi penulis, jadi blogger profesional? Kok gak nulis? Plaaak! Slap to myself.  Memang,terlalu banyak excuse atas kelalaian ini. Salah satunya adalah perkara gadget. Saya terlalu combonk untuk belajar menulis pakai hp. Padahal sudah banyak blogger lain yang mahir menulis via gawainya. FYI, laptop saya yang dibeli tahun 2008 kondisinya sudah mengenaskan. Kabelnya terkelupas, abjadnya sudah diambil paksa oleh…Saladin.

Saladin juga menjadi salah satu alasan vakumnya dua blog utama saya. Dua minggu sebelum ramadhan, saya mendapat pinjaman laptop dan bertekad menulis lagi. Lalu..hening. Tiga menit kemudian…”Mama..TOLOONG!”. Hah? Di mana Saladin?

Ternyata ia sudah berada di luar rumah, loncat jendela. Di lantai DUA. Huaaa. Untung dia menginjak genteng, jadi ada pijakannya. Astaghfirullah.

Itulah nikmatnya punya anak super aktif, harus siaga setiap saat. Tapi tetap saja ada yang harus dikorbankan. Salah satunya adalah kegiatan menulis. Saat dia tidur, maunya saya mencicil nulis 1-2 paragraf. Tapi seringnya sudah teler dan ikut ketiduran. Kapan nulisnya? Mewek dehh.

Blog TLD yang domain-nya hadiah dari seorang kawan yang baik hati ini bikin saya senang sekaligus stress. Senang karena akhirnya punya dot com sendiri. Gak perlu digusur gusur kayak jaman multiply dulu.

Tapi saya jadi terpacu untuk menulis. Duh, nulis apa ya minggu ini? Berapa viewer dan commentatornya? Domain authority ku berapa? Dll, dst. Jadinya saya hanya memikirkan SEO.

Dan lupa akan kesenangan menulis.

Terseret dalam kebosanan. Menulis-share link, balas komen-balik BW. Begitu terus.

Lalu saya analisa. Hmm, kalau bosan menulis di blog, harusnya saya banting setir nulis cerpen untuk media lagi. Atau menulis di wattpad. Atau di instagram lalu share di tumblr.

Senin depan Saladin sudah masuk TK. Jadi saya punya waktu 2-3 jam untuk me-time dan menulis. Horee..

Semoga bisa istiqamah menulis lagi.

 

‘Dibawa lari?’. Hanya itu yang bisa saya ucapkan, saat suami memberi tahu bahwa mesin cetak menghilang dari workshop. Hal itu terjadi di tahun 2014, namun masih membekas sampai sekarang. Kehidupan keluarga kecil kami bagai jatuh ke jurang. Dan kami masih bergelut dari kejaran debt collector.

Setelah tiga tahun membuka percetakan, akhirnya kami membeli mesin cetak. Tapi semua kandas saat seorang partner menggondol mesin itu. Padahal kami sudah membelinya, tunai. Dia tak punya hak untuk membawa pergi, seenaknya. Sampai sekarang begundal itu menghilang ditelan bumi.

Celakanya, uang untuk membeli mesin cetak itu adalah hasil berhutang di bank. Tiap bulan kami pontang panting membayar 1,5 juta. Tanggal 23 seakan akan jadi kiamat, karena terlambat bayar sehari saja, debt collector akan meneror.

Suami akhirnya mencari pekerjaan sampingan. Dia pernah jadi karyawan pabrik karet, tukang sembelih ayam, bahkan kuli bangunan. Uang sudah terkumpul, tapi percetakan ketereran. Akhirnya Royal Corps Percetakan ditutup sejak awal tahun 2016.

Uang, uang, dan uang
Hanya itu yang saya pikirkan. Kapan kami bisa bebas hutang, dan mengontrak rumah sendiri? Saat ini Mama kandung masih berbaik hati menampung kami. Tapi sampai kapan?

Jika saya kerja kantoran, tak ada yang sanggup menjaga Saladin yang super aktif. Mau mengajar pun tak punya akta 4.

Akhirnya saya hanya bisa menangis di kamar, berteman lantunan ayat suci. Sibuk menyalahkan diri sendiri, betapa bodohnya aku! Lebih baik menyusul alm Uti ke alam baka.

Mungkinkah ini yang dinamakan depresi? Saladin saya pukul hanya karena ia melakukan kesalahan kecil. Dan saya mulai berimajinasi untuk mengambil pisau, lalu menancapkannya ke punggung suami, karena dia yang membuat saya menderita. Tidaaak !

Untung banyak teman di dunia nyata maupun dunia maya yang mendukung. Mereka mengirim lagu penenang, bahkan ada yang memberi hadiah buku motivasi. Depresi bisa dilawan, asal saya bisa menghentikan serangan cemas, dan mau berubah jadi lebih baik.

Alhamdulillah sekarang saya kembali menemukan rasa percaya diri setelah mengajar. Seorang rekan blogger mengajak saya jadi bagian di sebuah kursus bahasa inggris online. Semangat murid-murid untuk belajar membuat saya sadar. Bahwa motivator terbesar adalah diri sendiri. Kebahagiaan sejati itu ada di hati. Hati yang tetap sabar, saat badai mendera.

Pak Tua

Melihat sang istri muda

megal megol di lantai dansa

instruktur mengajar salsa

 

Pak tua

Turun ke lantai dasar kembali membuat

adonan daging bundar bundar

 

Hanya bakso jadi kawan setianya

Istri tua berjualan es

Sudah tak peduli pada nasibnya

Sakit hati

Setelah ditinggal kawin lagi

Berkali kali

 

Istri muda berdansa

Istri keberapa?

Keempat !

Oh tidak !

Dimana istri kedua dan ketiga?

Entah

Mungkin kita harus bertanya

Pada pak tua

 

Pak tua

Sudahlah…

Judul: Brisbane
Subjudul: Pesan Cinta Terhalang
Penulis: Leyla Hana
Penerbit: DAR! Mizan
Cetakan : 1, oktober 2014
Tebal: 207 halaman
ISBN: 978-602-242-492-5

Apa yang kau lakukan jika kau menyayangi adik perempuanmu sendiri? Bukan sebagai saudara kandung, tapi sebagai seorang wanita. Itulah yang dirasakan Raka. Remaja 17 tahun ini merasa ada yang aneh ketika berdekatan dengan Anggia, adik kembarnya.

brisbane

Anggia dan Raka bukan kembar identik, jadi wajar kalau banyak orang heran ketika tahu bahwa mereka kembar. Raka berkulit putih, mirip ayah bundanya. Sedangkan Anggia hitam manis.

Walau hitam manis, Anggia tidak minder. Ranking 1 selalu diraihnya. Sedangkan Raka tidak terlalu suka belajar, bahkan PR-nya selalu dikerjakan Anggia.

Kakak beradik ini tak terpisahkan, sampai Anggia ingin kuliah di Brisbane, Australia. Raka shock karena ia tak pernah berpisah jauh dari adiknya. Sedangkan Anggia ingin membuktikan bahwa ia bisa hidup mandiri, dan mendapat perhatian dari sang Bunda.

Sejak mereka kecil, Bunda agak pilih kasih. Raka minum asi, sementara Anggia minum susu formula. Raka lebih disayang , bahkan agak dikekang.

Akhirnya Anggia dapat beasiswa untuk kuliah di Brisbane, dari kantor Pak Rahman, ayahnya. Bu Lidya, bundanya, menangis, mengapa Raka kalah cerdas dengan adiknya? Namun ia mengikhlaskan kepergian Anggia.

Bagaimana dengan Raka? Diam diam ia menyusul ke Brisbane. Sang Bunda menangis pilu, karena anak kesayangannya menghilang. Pak Rahman sebenarnya tahu, Raka ada dimana. Tapi ia bingung, akankah berkata jujur pada istrinya?

Sementara di Brisbane, Raka baru sadar bahwa ia tidak bisa survive karena terbiasa dimanja. Apalagi ia tak bisa bicara dalam bahasa inggris dengan lancar. Di Hostel, ia bertemu Phillipe, anggota band The Black Head, dan langsung menawarkan diri untuk jadi asisten mereka.

Suasana Brisbane yang hangat tak bisa menenangkan hati Anggia, karena Raka menghilang. Gia menerima tawaran sahabat barunya untuk liburan di Gold Coast. Ternyata di sana ia bertemu dengan, siapa hayo? Akankah ia tahu yang sebenarnya? Mengapa Bunda pilih kasih?

Saat novel ini tamat, saya berkata ‘haa, segini aja?’. Endingnya menggantung. Semoga ada terusannya.

Asyik sekali membaca buku ini, hanya butuh beberapa jam untuk menamatkannya. Setting Brisbane benar-benar kuat, seolah-olah pembaca berada di sana.

Saya pun heran ketika ada pembaca lain yang bilang kalau buku ini hanya berisi 50% setting Brisbane. Lho, justru setting yang jadi salah satu kekuatan novel. Pasti dia belum pernah baca karya NH Dini.

Overall, novel ini almost perfect.

Sukses untuk mbak Leyla Hana

Kemarin ada satu teman saya yang memberi informasi bahwa ada agency yang butuh jasa penulis konten untuk websitenya. Saya lalau meluncur ke tkp, dan ternganga.
Bagaimana tidak, satu tulisan dengan panjang 250 kata hanya dihargai 3.000 rupiah?? Kalau dibelanjakan, hanya bisa mendapat dua ikat bayam.

Saya semakin shock ketika membaca persyaratannya, harus pintar seo, dan bekerja di bawah deadline ketat. Ya, berarti mereka butuh seseorang yang bisa menulis
setidaknya lima artikel per hari. Semakin panjang artikel, semakin banyak honornya. Tapi paling banter cuma 25.000/1.000 kata.
Sebegitu murahkah honor penulis konten? Dulu sempat ada teman yang minta tolong saya menulis satu artikel untuk websitenya, alhamdulillah saya diberi fee 16.000
rupiah. Kalau job review juga lumayan kan, minimal 50.000 rupiah. Tapi kalau dibayar 3.000? Sungguh teganya dirimu, teganya teganya. Ingin saya
bicara di depan mukanya (pakai toa), “Mas, saya tuh kuliah teori sastra sampai 5 tahun dan jungkir balik, eh honor tulisan saya cuma bisa buat belanja sayuran?

Kalau begitu, lebih baik jadi translator, satu halaman dihargai minimal 15.000, kalau jadi penerjemah tersumpah bisa dihargai sampai 100.000. Atau optimisasi blog
sendiri, traffic naik, jadi job review pun berdatangan.

Kalau cari dollar bagaimana? Menurut beberapa sumber, satu artikel bisa dihargai 2 $, lumayan lah 26.000. Kalau mau serius jadi content writer berbahasa inggris, klik
saja upwork.com.

Ya, dulu saya suka menulis walaupun tanpa dibayar, karena hanya menyalurkan hobi. Tapi sekarang karena berusaha jadi penulis profesional, harus cari cara agar bisa
eksis..eh…Maksudnya re branding dari pengusaha jadi penulis. Kalaupun diminta mengajar, saya lebih suka berada di kelas writing, bukan grammar.

Tolong hargai penulis dan penerjemah karena mereka bukan sekedar tukang ketik, bukan mesin yang bisa bekerja cepat seperti G translate. Tapi butuh imajinasi dan
perasaan untuk membuat sebuah karya.

Bagaimana pendapatmu?

 

 

 

Exif_JPEG_420

Exif_JPEG_420

Bibir nyinyir melambai lambai. Dan aku siap dengan pisauku.

Kau menggoda serupa rujak cingur.

Lidah lebih tajam daripada pedang?

Bibir, lidah, sama saja.

Membuatmu masuk neraka.

Jika kau tidak hati-hati menggunakannya.

 

 

Pemanasan untuk ink october..

 

Nostalgila!
Itulah yang diteriakkan istriku ketika para tetangga bercuit-cuit. Mereka menggoda kami, sudah tua kok berduaan terus!

Dua pasang tangan melambai, lalu “ciit!”. Aku menarik rem tangan, kereta berhenti. Istriku membuka pintu kereta, lalu mempersilakan mereka masuk. “Priit!”, suara peluit adalah kode bahwa aku harus jalan lagi.

Itulah kegiatan kami setiap sore, keliling kampung, menawarkan jasa jalan-jalan naik kereta kelinci. Aku menyetir, sementara istriku jadi kernet. Tak pernah aku memaksanya, namun ia bersikeras membantuku. Bukannya tak percaya orang lain, tapi ia ingin selalu ada di sisiku.

ebes

Kami sudah 45 tahun menikah, sepanjang hidupku kuhabiskan asam manis hidup dengannya. Dulu aku menyetir truk keluar kota. Tapi sejak anakku yang merantau di Borneo membelikan kereta kelinci, aku tak repot-repot kerja jauh. Ibu dari anak-anakku setia mendampingi, walau ahris naik-turun menjemput penumpang.

Matahari mulai merangkak turun, sudah hampir maghrib. Setelah memarkir kereta di halaman depan, aku berjalan masuk. Istriku mendului. Lalu, hmm, tercium aroma sambal yang digoreng. Lima menit kemudian, nasi panas, telur ceplok, sambal dan kulup sayuran sudah terhidang. Saat aku makan ia malah asyik menjahit kain perca untuk dijadikan taplak. Hasilnya lumayan, untuk menambah kebutuhan kami.

Usia tak menghalanginya untuk bekerja keras. Kami memang sudah renta, tapi pantang meminta pada anak-anak. Jika aku sudah lelah menyetir, istriku menjual lengkuas hasil kebin ke pasar, atau berdagang jeruk. Tak ada satupun keluar dari bibirnya.
Ia mengajarkanku untuk tak pernah melepaskan harapan.

 

*terinspirasi dari kisah bapak dan ibu mertua