Sebelum hamil, saya sudah membaca beberapa artikel tentang baby blues. Ternyata setelah melahirkan perempuan rentan bersedih karena pengaruh hormon dan kelelahan fisik, yang dinamakan baby blues. Saat hamil Saladin, saya sudah bersiap akan kedatangannya, namun tak menyangka baby blues akan terasa seperti ini.

Sesakit ini….

Akhir tahun 2012, suatu sore saya terisak-isak di kamar mandi. Mama berteriak dari luar, ada apa kok sampai menangis? Padahal penyebabnya sepele, beliau hanya mengingatkan agar membawa kresek, pembalut, dan koran bekas agar saya bisa sekaligus ganti di sana. Memang saat itu saya masih nifas setelah melahirkan Saladin. Teguran halus itu tak disangka jadi sekeping duri yang menusuk di hati.

Di hari lain saya meneteskan air mata sambil meng-SMS suami agar lekas pulang. Mama terus mengingatkan agar saya kembali ke Rumah Sakit untuk memeriksa jahitan. Bahkan beliau setengah memaksa agar diantar Papa saja. Saya sedikit tersinggung karena bukankah itu tugas dan hak suami? Bukan lagi orang tua….

Baby blues memang terlihat sepele, namun memiliki efek dahsyat. Beruntung baby blues itu hanya saya rasakan selama beberapa jam. Ada ibu yang terus menerus baby blues sehingga menjurus pada depresi pasca melahirkan. Kok bisa?

Ibu juga manusia!

Ibu melahirkan masih merasa sakit pada jahitan (apalagi yang habis operasi sesar). Darah menetes hingga sebulan lebih. Belum lagi harus tetap strong karena harus menyusui, mengendong, memandikan bayi, dll. Kelelahan yang mendera ditambah dengan tidak adanya bantuan dari suami (yang sibuk kerja) atau ibu (karena tinggal di lain kota) atau PRT, akan membuat emosi negatif menumpuk.

Itu BAHAYA!

Pernahkah baca berita tentang ibu yang membunuh bayinya? Atau ibu lain yang menenggelamkan diri di bak mandi? Sepintas mereka terlihat baik-baik saja, namun jiwanya rapuh. Depresi karena hormonal, karena keletihan, apalagi OMONGAN NEGATIFdari tetangga membuatnya makin merasa gila.

Yuk Moms kita cegah baby blues dan depresi dengan cara ini.

  1. Makan

Ibu menyusui harus makan dengan teratur dan bergizi. Jika perlu, sebelum melahirkan sudah menelepon katering untuk berlangganan, jadi tidak repot memasak.  Ibu juga bisa isi saldo gopay atau ovo, dan kuota, untuk pesan delivery order.

Perlu dukungan suami juga agar istrinya bisa makan teratur. Kalau perlu disuapin ya Paak! Ingat, dia sudah berkorban nyawa, jadi sekarang perlakukan seperti ratu. Sediakan juga biskuit atau roti di kamar, jadi bisa buat cemilan saat menyusui.

  1. Setel Musik

Musik terbukti bisa menenangkan dan membuat mood ibu menyusui jadi lebih baik. Kalau ibu senang, ASI lancar, baby blues hilang. Jika tidak ada aplikasi seperti Spotify atau Joox, beli saja radio mini untuk jadi teman di dalam kamar. Musik lembut yang menenangkan juga bisa bikin baby berkurang rewelnya.

  1. Pengertian

Ini yang agak susah ya, kadang yang kurang pengertian malah keluarga dekat. Ibu menyusui harus banyak pantangan makanan, dilarang tidur siang, blablabla. Di sini peran suami juga wajib untuk menerangkan bahwa itu hanya mitos jaman dulu. Jika perlu kamar dikunci saat ibu tidur siang, jadi tidak ada yang mengganggu. Saat ada rezeki, maka lebih baik mengontrak sendiri daripada serumah dengan ibu mertua atau orang tua kandung, untuk meminimalisir interverensi.

  1. Hobi

Melakukan hobi bisa menjauhkan ibu menyusui dari baby blues. Kalau suka nonton, coba deh saat bayi tidur, nonton serial drama korea kesukaan, walau hanya 20 menit. Perasaan jadi bahagia, depresi juga berlari sendiri. Kalau hobinya jalan-jalan gimana? Ya, sekali-kali suami yang jagain anak di hari sabtu, gantian istrinya main ke Mall. Wkwkwk.

Inti dari cara menolak baby blues adalah adanya pengertian suami. Jadi dari awal nikah (bahkan sebelum nikah), coba tanya. Apa suami mau bantuin menggendong bayi, atau mencuci popok saat istri masih nifas? Harus ada kesepakatan. Bikin berdua, ngurusnya juga berdua dong.

Kalau dia cuek gimana? Jangan sedih ya, teruslah berdoa dan beri contoh pada suami bahwa istri juga masih perhatian, walau sekarang fokus mengurus jabang bayi. Lama-lama hatinya terketuk dan mau dimintai tolong untuk mengganti popok. Komunikasi dan curhat dari ke hati itu perlu, bukan dengan membentak atau ngambek sambil bilang, “Kamu gak pernah ngertiin aku!”. Langsung bilang saja deh maunya gimana.

Tulisan ini diikutsertakan dalam blog challenge Indscript Writing ‘Perempuan Menulis Bahagia’