“Selamat ulang tahun, kami ucapkan.”

Teman-temanku bernyanyi. Mereka tersenyum sambil melihat kue. Kue tart yang terlihat enak. Krimnya warna putih, ada hiasan bunga merah muda di atasnya. Aku ingin meniup lilin biru di tengah kue. Tapi bukan punyaku!

birthday cake

“Ayo Rahma, tiup lilinnya. Nanti ibu potongkan, lalu dimakan bersama.”

Bu Yayuk tersenyum pada Rahma. Ah, enak sekali jadi anak orang kaya. Rahma bisa beli kue tart enak. Temanku itu merayakan ulang tahun di sekolah. Tahun lalu, ia meniup lilin di restoran ayam goreng.

Besok ulang tahunku. Aku juga mau kue. Tapi tadi pagi ibu menggeleng. Ayah juga mendukung. “Alya, ulang tahun tak harus dipestakan.”

Bu Yayuk memberi sepotong kue. Alya berhenti melamun. Bolu cokelat ini manis, tapi aku ingin menangis.

Pulang sekolah, Alya kembali diam. Rahma bingung saat melihat wajahnya. “Alya kenapa? Apa kamu mau satu kado punyaku? Ambil saja!”

Alya hanya menggeleng lalu menutup mulut.

######

Pagi hari, Alya cepat-cepat mandi, lalu bernyanyi dalam hati. “Selamat ulang tahun Alya! Ibu tak beli kue, tapi pasti bikin nasi kuning. Ibu pasti memberi pesta kejutan untukku.”

Alya berjalan menuju ruang makan, lalu membuka tudung saja. Hanya ada sebakul nasi dan sepiring tempe goreng.

tempe

“Ibu lupa kalau Alya ulang tahun! Aku tak disayang lagi!”

Alya ingin menangis. Tiba-tiba, ia punya ide.

Alya berjalan pelan, mengintip ke dapur di belakang rumah. Ibu masih menggoreng lauk. Ayah pasti masih mandi.

Alya mengambil uang 20.000 di tasnya. Minggu lalu Nenek memberinya. Setelah memasukkan uang di kantong, Alya membuka pintu, lalu lari dari rumah.

“Aku bolos saja. Ibu dan ayah jahat! Lebih baik aku ke rumah Tante April.”

Alya belok kanan lalu berlari ke perumahan sebelah. Ia pergi ke rumah Tante April. Saudara sepupu ibu.

“Tante, Assalamualaikuum.”

Alya mengetuk pintu. Ia juga memencet bel. Tapi hanya ada suara cuitan burung gereja.

Di mana Tante April?

Alya sekali lagi kecewa. Tapi ia tak mau pulang. “Aku ke rumah Nenek saja. Nenek tak mungkin lupa ulang tahunku.”

Alya berjalan ke depan perumahan. Ia melirik ke kiri, lalu ke kanan, takut ketahuan Ibu! Untung tak ada yang sadar kalau Alya kabur.

Sebuah mobil angkot warna biru terlihat. Alya menggoyang tangan kanannya. Angkot berhenti, lalu Alya duduk di kursi sebelah sopir.

Di angkot, Alya melamun lagi. “Pasti Nenek sudah bikin kue. Beliau tak akan lupa hari ulang tahunku.

Alya hampir tertidur. Semalam, ia baru tidur jam 11. Memikirkan kue ulang tahunnya.

Tiba tiba pak sopir mengerem angkot. Alya kaget, lalu terbangun. Untung rumah nenek sudah dekat.

“Kiri pak!” Alya memberi selembar uang. Pak sopir membeli kembalian, lalu Alya turun. Ia ingin berlari ke rumah Nenek.

Di jalan, Alya melihat langit. Dulu, Ibu sering mengajak Alya piknik sambil melihat langit biru. Mereka makan sandwich lalu bernyanyi bersama. Tapi setelah menikah dengan Om Sugeng. Ibu tak pernah mengajak Alya piknik. Ia juga harus memanggil Om Sugeng “Ayah”.

“Harusnya aku sarapan dulu!” Alya memegang perutnya. Ia terus berjalan menuju rumah Nenek.

“Assalamualaikuum. Nenek, cucumu datang!”

Alya mengetuk pintu, tapi tak ada jawaban. Apa nenek masih tidur? Biasanya beliau bangun subuh lalu memasak. Apa nenek sakit?

Alya membuka pintu rumah. Di ruang tamu, ada aroma sedap. Nenek pasti masak untukku!

“Oh, cucuku datang.” Nenek tersenyum dari balik jendela kamar. Alya berlari lalu memeluk Nenek.

girl grandma

“Wah, nenek masak ayam goreng untukku ya?”

Nenek mengangguk. “Iya sayang. Nenek bikin kue dan ayam, lalu diantar kurir ke rumahmu. Lho, kamu tidak sekolah? Ibu tidak bilang?”

Nenek lalu bercerita tentang pesta kejutan Alya. Alya ingin menangis. Ternyata ibu tidak lupa ulang tahunnya!

“Ayo, nenek antar pulang. Tolong ambilkan handphone di kamar.”

Nenek menelepon taksi lalu mengajak Alya. Di dalam mobil, Alya takut ibu marah.

Mereka sampai di depan rumah Alya. Tapi pintunya terkunci!

Nenek mengambil kertas yang ditempel di pintu depan.

“Alya, ibu kemarin pesan kue ke nenek. Tapi Alya hilang. Ibu dan Ayah pergi ke kantor polisi. Kalau Alya tak mau pulang. Kue dan ayamnya untuk pak polisi saja.

Alya hanya diam. Kini ia yang diberi kejutan oleh ibu.