‘Dibawa lari?’. Hanya itu yang bisa saya ucapkan, saat suami memberi tahu bahwa mesin cetak menghilang dari workshop. Hal itu terjadi di tahun 2014, namun masih membekas sampai sekarang. Kehidupan keluarga kecil kami bagai jatuh ke jurang. Dan kami masih bergelut dari kejaran debt collector.

Setelah tiga tahun membuka percetakan, akhirnya kami membeli mesin cetak. Tapi semua kandas saat seorang partner menggondol mesin itu. Padahal kami sudah membelinya, tunai. Dia tak punya hak untuk membawa pergi, seenaknya. Sampai sekarang begundal itu menghilang ditelan bumi.

Celakanya, uang untuk membeli mesin cetak itu adalah hasil berhutang di bank. Tiap bulan kami pontang panting membayar 1,5 juta. Tanggal 23 seakan akan jadi kiamat, karena terlambat bayar sehari saja, debt collector akan meneror.

Suami akhirnya mencari pekerjaan sampingan. Dia pernah jadi karyawan pabrik karet, tukang sembelih ayam, bahkan kuli bangunan. Uang sudah terkumpul, tapi percetakan ketereran. Akhirnya Royal Corps Percetakan ditutup sejak awal tahun 2016.

Uang, uang, dan uang
Hanya itu yang saya pikirkan. Kapan kami bisa bebas hutang, dan mengontrak rumah sendiri? Saat ini Mama kandung masih berbaik hati menampung kami. Tapi sampai kapan?

Jika saya kerja kantoran, tak ada yang sanggup menjaga Saladin yang super aktif. Mau mengajar pun tak punya akta 4.

Akhirnya saya hanya bisa menangis di kamar, berteman lantunan ayat suci. Sibuk menyalahkan diri sendiri, betapa bodohnya aku! Lebih baik menyusul alm Uti ke alam baka.

Mungkinkah ini yang dinamakan depresi? Saladin saya pukul hanya karena ia melakukan kesalahan kecil. Dan saya mulai berimajinasi untuk mengambil pisau, lalu menancapkannya ke punggung suami, karena dia yang membuat saya menderita. Tidaaak !

Untung banyak teman di dunia nyata maupun dunia maya yang mendukung. Mereka mengirim lagu penenang, bahkan ada yang memberi hadiah buku motivasi. Depresi bisa dilawan, asal saya bisa menghentikan serangan cemas, dan mau berubah jadi lebih baik.

Alhamdulillah sekarang saya kembali menemukan rasa percaya diri setelah mengajar. Seorang rekan blogger mengajak saya jadi bagian di sebuah kursus bahasa inggris online. Semangat murid-murid untuk belajar membuat saya sadar. Bahwa motivator terbesar adalah diri sendiri. Kebahagiaan sejati itu ada di hati. Hati yang tetap sabar, saat badai mendera.

Advertisements