Nostalgila!
Itulah yang diteriakkan istriku ketika para tetangga bercuit-cuit. Mereka menggoda kami, sudah tua kok berduaan terus!

Dua pasang tangan melambai, lalu “ciit!”. Aku menarik rem tangan, kereta berhenti. Istriku membuka pintu kereta, lalu mempersilakan mereka masuk. “Priit!”, suara peluit adalah kode bahwa aku harus jalan lagi.

Itulah kegiatan kami setiap sore, keliling kampung, menawarkan jasa jalan-jalan naik kereta kelinci. Aku menyetir, sementara istriku jadi kernet. Tak pernah aku memaksanya, namun ia bersikeras membantuku. Bukannya tak percaya orang lain, tapi ia ingin selalu ada di sisiku.

ebes

Kami sudah 45 tahun menikah, sepanjang hidupku kuhabiskan asam manis hidup dengannya. Dulu aku menyetir truk keluar kota. Tapi sejak anakku yang merantau di Borneo membelikan kereta kelinci, aku tak repot-repot kerja jauh. Ibu dari anak-anakku setia mendampingi, walau ahris naik-turun menjemput penumpang.

Matahari mulai merangkak turun, sudah hampir maghrib. Setelah memarkir kereta di halaman depan, aku berjalan masuk. Istriku mendului. Lalu, hmm, tercium aroma sambal yang digoreng. Lima menit kemudian, nasi panas, telur ceplok, sambal dan kulup sayuran sudah terhidang. Saat aku makan ia malah asyik menjahit kain perca untuk dijadikan taplak. Hasilnya lumayan, untuk menambah kebutuhan kami.

Usia tak menghalanginya untuk bekerja keras. Kami memang sudah renta, tapi pantang meminta pada anak-anak. Jika aku sudah lelah menyetir, istriku menjual lengkuas hasil kebin ke pasar, atau berdagang jeruk. Tak ada satupun keluar dari bibirnya.
Ia mengajarkanku untuk tak pernah melepaskan harapan.

 

*terinspirasi dari kisah bapak dan ibu mertua

Advertisements