Kerumunan orang menyemut di sekitar pecinan. Beberapa minggu lalu, pasar besar dilanda kebakaran, namun toko di kompleks pecinan yang berada di sampingnya tak terpengaruh. Malah semakin penuh. Saya melihat kalender di hp, baru hari ke-8 di bulan Ramadhan. THR masih lama cair, tapi ibu ibu sudah menyerbu pertokoan.

Apakah salah merayakan lebaran dengan baju baru? Well, bisa ya, bisa tidak. Mungkin ada yang berkomentar, hanya demi lebaran yang berlangsung satu-dua hari, mereka rela berdesakan, membeli sehelai dua helai baju. Bahkan dulu saya pernah melihat seorang gadis pingsan di depan rak baju, karena tak kuat berdiri di tengah sesaknya pengunjung mall.

Tapi bisa jadi mereka terbawa euforia lebaran, karena memang hanya sanggup beli baju setahun sekali. Opor ayam berasa sangat istimewa, karena mereka bisa membeli ayam hanya pada hari lebaran. Di hari lain mungkin menunya cuma tahu, tempe, dan sayur asem.

Bagi kita yang jauh lebih mampu, apa mau “bersaing”? Kalau mall penuh, sudahlah, cari hari lain. Habis lebaran mall nya masih buka, kok. Jika ngidam baju baru, mungkin solusinya adalah beli di online shop. Tentu saja harus diukur baik baik ya, panjang baju dan LD nya, agar ukurannya pas di badan.

Lebaran tetap lebaran, meskipun tanpa baju baru. Ingat kata Dea Ananda, “baju baru alhamdulillah, tak barupun tak apa apa, masih banyak baju yang lama”. Selamat berpuasa.

 

 

Advertisements