“Makan mbak!”

Saya cuma bisa mengangguk, sambil melanjutkan perjalanan. Bukan, bukan karena kenyang atau sungkan. Tapi karena yang mengucapkan kata kata itu adalah seorang gelandangan.

Cuma gelandangan?

Bukan, saya bukan menghindari dan membully nya. Tapi kata katanya membuat saya berpikir. Seorang gelandangan yang sedang asyik makan siang, menyampatkan diri untuk bersopan santun dengan mengatakan “makan mbak”. Sementara saya? Pernahkah saya berkata begitu, ketika sedang makan di depan seorang kawan?

Self plak !

Satu jam kemudian, saat saya melewati jalan itu, (untuk pulang), eh dia tertidur. Walau hanya beralas koran bekas dan beratap pos satpam. Apakah hidupnya sesederhana itu? Mengais sampah, ditukar dengan uang. Uangnya untuk beli makanan. Tidur dimana saja asal tidak diusir orang. Oh my, as simple as that!

Ternyata kenyamanan dan kebahagiaan bisa hadir dengan cara yang sangat sangat sederhana.

Apakah saya harus memenuhi ambisi untuk mempunyai rumah sendiri, baru bisa merasa BAHAGIA? Padahal inti dari kebahagiaan berasal dari hati, yang penuh dengan rasa sabar dan syukur.

Pertemuan dengan gelandangan, kemarin siang, membuat saya tersentak, tersadar, dan merenungi arti sebuah kata syukur.

 

 

Advertisements