“Siomaay! ” ..Suara pedagang siomay lantang membahana. Lalu Saladin terlonjak lonjak gembira. Ia segera mengambil piring, lalu meminta. Ya, itu adalah makanan kesukaannya, sejak masih dalam kandungan.

Setelah siomay terhidag, kami makan sepiring berdua. Romantis? hihihi..Saya sengaja makan model begini karena ingin mengajarinya makan sendiri. Saat ia melihat ibunya makan dan tak mungkin menyuapinya, mau tak mau ia makan sendiri.

Sesuap, dua suap, tiba tiba saya merasa kenyang. Karena melihat Saladin yang semangat makan.

Peristiwa ini membuat saye mengingat memori bertahun-tahun yang lalu. Saat itu saya masih SD. Mama memasak spaghetti bolognaise, tapi beliau hanya makan setengah piring. Karena melihat anak-anaknya doyan sekali makan spaghetti. Dan beliau mengalah….

Dan sekelebat bayangan memori kembali hadir. Saat mama marah marah. Ya, saya makan apel utuh, tapi tak emnghabiskannya. Lemparkan saja sisanya ke got. Eeh ketahuan dan dimarahi.
Kala itu saya merasa sebal. Ternyata saya melakukan hal yang sama ketika Saladin membuang buang makanan.

Seperti cermin, refleksi. Semua perkataan mama sewaktu saya kecil, benar. Dalam hati saya menangis. Mengapa dulu membangkang dan tak menuruti nasehatnya?
Ternyata semua ibu menyayangi anaknya dengan caranya sendiri..

Advertisements