Rambutnya ikal, kulitnya hitam manis. Bibirnya selalu menyunggingkan senyum. Namun tak ada yang tahu bahwa ia menderita gangguan jiwa. Sampai membahayakan nyawa sang putra. Sebenarnya, siapa dia?

Yanti, ia adalah tetangga saya. Usianya belum genap tiga lima, namun sudah beranak dua. Saya mengenalnya sekitar sepuluh tahun yang lalu. Hampir tiap malam ia menelepon di wartel milik keluarga kami. Saya yang sering menjaga wartel kemudian akrab dengannya. Tak jarang ia membantu ibu saya menyeterika. Atau saya mengajarinya bahasa inggris. Kala itu saya sudah kuliah, sementara ia masih sekolah di sebuah SMK swasta.

Singkat cerita, Yanti lulus sekolah dan merantau ke Batam. Setelah beberapa tahun bekerja, ia menerima lamaran rekan kerjanya. Seorang perantau dari Jambi.

Setahun setelah menikah, mereka pulang kampung ke Malang. Saat itu ada teman sekolah Yanti yang mengabarkan bahwa mantan pacarnya meninggal dunia. Duaar! Berita itu mengguncang hatinya, bagai petir di siang bolong. Eko..Eko..Ia sering memanggil nama mantan kekasihnya. Tangisan tak mampu meredam kesedihannya.

Memang jodoh di tangan Tuhan. Mungkin ia menyesal, mengapa tak menikah dengan Eko. Padahal dulu ia merelakan anting antingnya dijual, untuk membeli kado ulang tahun Eko. Cinta mati? Cinta yang dibawa sampai mantannya mati?

Tangisan tak mampu meredam kesedihannya. Lalu, ha..ha..ha.. Lho? Yanti jadi sering tertawa sendiri. Lara hati yang menjelma jadi depresi berat, membuatnya punya gangguan jiwa. Cinta, deritanya tiada akhir? Saya jadi ingat perkataan Pat Kay di serial Kera Sakti.

Hati ini teriris saat Fitri (adik angkat saya) bercerita. Yanti sering memendam masalahnya sendiri. Ternyata ia dulu hanya menikah siri, sehingga anaknya tidak punya akte kelahiran. Ibunya memiliki lima anak, dan ia anak tengah. Sehingga ia harus berebut perhatian dengan abangnya yang pemarah, dan adiknya yang pintar.

Saya tak menduga depresinya separah itu. Suatu hari, ia sudah nongkrong di atas genteng, sambil mengayun ayunkan putranya! Para tetangga yang panik, langsung mengambil tangga untuk menyelamatkan mereka.

Esoknya, saat sang ibu lupa tidak mengunci pagar, ia kabur. Untungnya ia ketemu, sedang berdiri di depan minimarket dengan kondisi hampir tanpa busana! Ia ingin mencegat angkutan kota yang menuju rumah Eko.

Yanti pun digelandang ke rumah, beruntung ia tak dipasung. Tapi orangtuanya menyangkal bahwa ia kena gangguan jiwa. Mereka kira, ia kerasukan roh halus, dan harus diruqyah. Oleh…..dukun! Astaga…

Beruntung ada seorang tetangga yang membujuk orangtua Yanti. Ada sebuah panti perawatan di Kabupaten Malang. Biayanya murah, karena bisa pakai SKTM (surat keterangan miskin). Alhamdulillah sang ibu setuju

Saat Yanti dirawat, suaminya kembali ke Lampung, untuk bekerja di perkebunan. Setelah beberapa bulan, sang suami rela menjual sapi, demi legalitas pernikahan mereka.

Sementara di Malang, Yanti dikeluarkan dari Panti karena…hamil..Suami Yanti segera berangkat ke Malang. Ia mengira istrinya sudah sembuh, lalu menyerahkan tas berisi 10 juta, hasil penjualan sapi. Rencananya, uang itu akan digunakan untuk mengurus peresmian pernikahan di KUA dan syukuran sederhana.

Tapi ternyata Yanti belum sembuh. Ia lari sambil membawa tasnya. Di dalam angkutan kota, ia serahkan tas itu kepada seorang nenek. Beruntung ia dibawa pulang oleh supir. Tapi uang di tas sudah tak ada.

Uang melayang, ketidakwarasan belum hilang. Saat itu terlihat ketulusan hati sang suami. Ia memaafkan istrinya dan mengajaknya kembali ke Lampung.

Saya tak berjumpa dengannya selama beberapa tahun. Sampai suatu sore, kami berpapasan di jalan. Ia memakai earphone, gayanya ceria, seperti gadis remaja. Walau dengan kawalan kakaknya. Tiba tiba ia nyerocos , “Mbak, tau rumahnya mbak Malia?”. Duh…apa dia kumat lagi? Kok ngomongnya pelat (cadel). Saya Cuma menggeleng sambil menemani mereka pulang.

Esok paginya, “tok tok tok! Mbaak …mbaak..mas Doni dimana?”. Hah? Saya yang sedanga syik memasak, kaget ketika ada yang menggedor gedor pintu belakang. Setelah saya buka, ternyata Yanti. Ia memasang muka sedih, lalu curhat, “Mbak, aku mimpi mas Doni kecelakaan”. Fyi, Doni adalah adik saya. Tapi saat itu ia tidak ada di rumah, karena sudah bekerja di Jakarta.

Wuuz! Tiba tiba Yanti lari ke ruang tengah, lalu menyalami Oca, adik kedua saya. Oca hanya bengong. Khawatir ia melakukan sesuatu yang aneh, saya membujuknya untuk pulang. Di tengah jalan, ia berceloteh persis seperti anak kecil, lengkap dengan cadelnya.

Sampai di rumah, sang ayah kaget, lalu berterimakasih. Bukan kali ini saja Yanti kabur, lalu “berjalan-jalan”, untungnya ia hanya berkeliling kompleks perumahan. Depresi berat membuatnya bertingkah seperti anak SD yang usil. Memanggil manggil nama tetangga dengan keras. Atau pergi ke masjid, tidak solat, tapi menjungkalkan para jamaah ayng sedang sujud.

Saya menyesal karena tidak bisa membantunya lebih lanjut. SKTM sudah tidak berlaku, jadi ia tak bisa kembali ke Panti. Keluarganya tak mengurus kartu BPJS. Hanya bisa berdoa, semoga ia bisa sembuh dari luka batinnya.

Orang dengan gangguan jiwa tak boleh dikucilkan, apalagi dipasung. Saat bersama Yanti, saya menganggapnya sebagai adik kecil, dan mengelus elus rambutnya. Jangan mengungkit masa lalunya, karena ia bisa histeris lalu melakukan hal yang ekstrim seperti lari ke rumah mantan pacarnya. Karena sesungguhnya ia haus kasih sayang.

Teman-teman, jika ada kawan yang depresi, dampingilah ia. Minimal jadi teman curhatnya. Karena ternyata depresi yang kebablasan bisa berubah menjadi gangguan jiwa.

Tulisan ini diikutkan dalam Giveaway Aku dan Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang diselenggarakan oleh Liza Fathia dan Si Tunis

ga odj

 

 

 

 

Advertisements