Sarjana sastra buka percetakan? Mungkin ini yang ada di pikiran orang-orang ketika tahu gelar resmi saya. Melenceng jauh dari perkiraan.Biasanya lulusan sastra kan jadi editor, kerja di kedutaan, atau penerjemah.

Ya gak masalah dibilang begitu. Yang penting saya enjoy mengelola bisnis ini. Saya bekerja sebagai marketing sekaligus mengurusi keuangan perusahaan, suamimenjadi desainer,sedangkan produksi ditangani oleh karyawan.

Anyway, sebenarnya ini bukan bisnis pertama saya. Tahun 2009 dulu pernah berjualan kaos, join dengan salah seorang kawan, sebut saja S. S adalah instruktur senam di fitness center kampus.Dia juga kuliah di Fakultas Ilmu Keolahragaan. Dan kami sama sama kuliah tingkat akhir.

Dia punya sekarung kaos bermerek adidas, reebok, dll. Rupanya itu barang dagangan yang akan dijual ke teman-temannya.  Harga gak sampai 100.000. Wow, ternyata itu kaos second.

S yang asli Kediri melihat ada toko yang menjual baju second. Insting bisnisnya bekerja, ia membeli kaos bermerk ternama, lalu dijual ke Malang. Lalu saya tertarik untuk memasarkannya via facebook. Karena S tidak punya akun fb. Saya foto kaosnya satu persatu, di upload di warnet. Alhamdulillah langsung laku dua biji.

Tapi sebelum cod dengan pembeli, kaosnya direndam air panas dulu, dicuci bersih, jemur, lalu seterika. Harga kulakan 10000-20,000, dijual bisa sampai 85.000. Lumayan kan.

Tapi sayang bisnis ini bertahan tak sampai setahun. Karena S yang lulus kuliah, diterima PNS. Dan ia ingin fokus mengajar, tak mau kulakan kaos lagi. Dan saya juga sibuk menulis skripsi (kuliah sudah tahun kelima).Ya, minimal saya dapat pengalaman. Berjualan apa aja boleh, yang penting halal.

Advertisements