“Saya membuat lukisan itu ketika katarak menyelimuti retina:. HAH? Saya terguncang setelah baca surat kabar itu. Di edisi minggu ada reportase tentang seorang pelukis yang hampir kehilangan penglihatannya, tapi bisa survive. Katarak tak sanggup merenggut kemampuannya melukis. Ketika ia tak mampu membedakan warna, akhirnya tercipta lukisan monokrom. Atau ia membuat patung dengan mengandalkan indra peraba.

Awalnya ia stress saat divonis katarak, namun mencoba bangkit. Setelah dokter mata mengingatkan bahwa Van Gogh tetap melukis walau terkena katarak.

Dulu Beethoven juga kehilangan pendengaran. Namun hal itu tak membuatnya berhenti main piano. Dan tercipta karya…ia membuatnya dengan hati, walau telinga tak berfungsi..

Dan kisah kisah itu membuat saya nyaaris menitikkan air mata. Tak boleh menyerah begitu saja. Kadang saya stuck dan bingung mau promosi apalagi. Maklum tahun lalu percetakan kami kena guncangan besar, tertipu rekan bisnis, nilainya hampir 50 juta. Tapi kami tak boleh berhenti. Jika berhenti, nanti Saladin makan apa?

Saat multiply kukut kan juga tetap menulis disini, disana, dimana mana. Tetap semangat bekerja, berusaha, dan berkarya. Apapun yang terjadi, tak boleh berhenti.

Advertisements