Tetes air matanya tak lagi menggenang di sudut mata, tapi sudah tumpah, membasahi pipinya yang mulai keriput..”anakku..anakku”. Tapi ratapan itu tak bisa mengembalikan sertifikat rumah yang telah berpindah ke brankas Bank.

Ya kemarin sore ada seseorang yang curhat ke emak (prt di rumah kami). Dengan sesenggukan ia mengutarakan si hatinya. Tentang anaknya yang tak mau bekerja, padahal ia anak LAKI LAKI. LAki laki pengangguran? Beberapa bulan lalu ia sempat bekerja di sebuah toko elektronik, tapi kemudian berhenti. Alasannya? capek. (ye..dimana-mana kerja juga capek, mas). Padahal anak itu usianya di atas saya, dan sudah punya istri dan 2 anak.

Dan anaknya sudah berusia 10 dan 2 tahun. Mau dikasih makan apa kalau ia tidak bekerja? Setua itu masih berlindung di bawah rok ibunya? Hmm..Sang ibu gemes, dan hanya bisa menenangkan diri di luar kota, di rumah peninggalan orang tuanya. Sampai..

Selembar itu telah melayang. Bukan uang, tapi sertifikat rumah. Telah digadai oleh putra kesayangannya, putra satu-satunya (semua saudaranya perempuan). Entah sertifikat itu laku berapa. Dan ibu itu hanya bisa merasakan nestapa. Kehilangan sertifikat, serta 2 cucu, menantu, juga putranya. Mereka kabur entah kemana.

Sang suami dulu bekerja sebagai supir. Bertahun-tahun mereka menabung dp, lalu mencicil rumah. Tapi teganya..Sungguh teganya sang anak..Akhirnya ibu itu mengambil sikap. Rumah itu akan dikontrakkan saja. Lalu ia akan menghabiskan masa tuanya di rumah peninggalan orang tuanya.

 

Aih, maaf Bu. Saya hanya bisa bantu broadcast iklan mengontrakkan rumah anda. Semoga Allah membuka pintu hati putramu.

Advertisements