“Mbak vinaa, mbak vinaa”. Hah? Pagi pagi ada yang meneriakkan nama saya. Siapa? Mak yang sedang mencuci telur juga kaget. Setelah beliau membuka pintu dapur baru ketahuan, ooh.

Ternyata Yanti. lalu dia nyerocos, bertanya “Mas Doni mana? Fitri mana? Foresta mana?”. Belum sempat saya menjawab pertanyaannya, eh dia berjalan ke ruang tengah, menyalami Ocha yang sedang sarapan. Langsung saya gandeng tangannya (dengan deg degan dalam hati). FYI, Fitri adalah mantan prt saya yang dulu bersahabat dengan Yanti. Doni, Ocha, Foresta adalah 3 adik laki-laki saya.

Sayapun menjawab pertanyaannya. “Kamu mimpi tah Yan? Doni kerja di jakarta, Foresta sekolah”. Eh tiba-tiba Yanti merengek , “Mbak gak suka sama aku ya? Anterin pulang dong!”. Terburu-buru saya mengambil kerudung, mengantarnya pulang. Rumahnya hanya berjarak 10 meter dari rumah saya. Di tengah jalan dia terus bercerita “Aku pengen ketemu mbak Malia. Dulu di Sawojajal”. “Suaminya mbak yang mana sih? Suamiku lho jelek”. Eeh..Padahal saya pernah bertemu suaminya, perawakannya gagah mirip tentara.

Sampai rumah, ayahnya kaget. Oh, rupanya Yanti melarikan diri lagi. Lalu ia berterimakasih, dan bercerita. Kadang kalau kumat, Yanti bisa menggoda orang-orang yang senam jantung sehat di lapangan. Atau mengganggu orang yang sedang shalat jamaah di masjid.

Ya Allah. Padahal 2 hari lalu saya berpapasan dengan Yanti. Ia habis belanja di minimarket, dengan dikawal oleh 2 kakaknya. Tapi cara bicaranya seperti anak kecil. Ia bercelana pendek dan memakai headphone, persis abege yang centil. Ia bercerita, “aku pengen nyusul suamiku di Jambi tapi belum punya uang saku”. Ya, suaminya memang bekerja di perkebunan, di Jambi-Sumatera. Sedangkan ia ikut ibunya di Malang.
Waktu itu saya heran, apa anak ini kumat lagi? Ternyata dugaan saya benar.

Yanti adalah ibu muda yang sudah beranak 2. Bahkan usianya lebih muda dari saya. Tapi mengapa ia bisa kumat dan stress, kadang bertingkah seperti orang gila? Saya pernah menceritakannya disini.

Intinya, ia jadi stress dan kadang membahayakan dirinya sendiri, karena tidak kuat hati. Saat merantau (lalu menikah) di Batam, mantan pacarnya (di malang) meninggal. Saat pulang ke Malang dan silaturahmi ke rumah mantannya, ia baru tahu kabar duka itu. Setelah itu ia kumat kumatan. Bertingkah seperti anak kecil. Kadang naik genteng sambil bernyanyi. Pernah ia hampir menelanjangi pakaiannya sendiri. Untung tertangkap oleh kakaknya.

Teman-teman, kalau stress jangan dipendam ya. Dari kasus Yanti kita bisa berkaca, bahwa manusia diberi kekuatan oleh Allah untuk mengendalikan pikiran dan hatinya. Jika kita tak kuat iman
, tak kuat mengendalikan hati, berujung stress, lama-lama bisa gila.

Eh beneran lho. Saya pernah mendengar cerita dari seorang ibu. Ia berkunjung ke RSJ Lawang. Isinya orang orang yang ganteng dan cantik, tapi sayang kurang waras, dan 90% penyebabnya adalah putus cinta. LaLu ibu itu berpesan, kalau pacaran jangan kenemenen (bahasa indonesianya: kalau pacaran jangan keterlaluan).  Bagi korban cinta di rumah sakit jiwa, cinta itu deritanya tiada berakhir (mengutip perkataan Chi Pat Kay di serial Kera Sakti).

Semoga Yanti lekas sembuh dan gak kumat-kumatan lagi. Kasihan dua anaknya yang masih kecil, kasihan orangtuanya. Dan salut pada suaminya yang tetap setia, walau istrinya setengah gila.

Cara pencegahannya ? Kalau ada teman yang stress, coba dekati. Minimal berikan dua telinga untuk mendengar. Semoga dengan dukungan orang terdekat stress-nya cepat sembuh.

Oiya jangan lupa (kalo yang sudah punya anak) memberi perhatian pada semua anak ya. Karena Yanti ini anak tengah, jadi dulu ia kurang mendapat perhatian dari orangtuanya. Akhirnya ia haus kasih sayang-dari pacar- terlalu mencintai (pernah menjual emasnya demi membeli kado), dan akhirnya seperti ini.

Advertisements