“Jenaaang Rujaak”

Suara penjual bubur madura yang lantang memasuki rongga telinga saya.

Aih, sudah berapa tahun saya tak memakan jualannya?

Alhamdulillah Saladin sudah tidur dari bobo siangnya. Segera saya gendong dia keluar rumah, mengejar sang penjual bubur.

Lho kok sudah ilang? Dengan berlari-lari kecil saya menyusuri jalan. ah ternyata sang ibu penjual sudah ada di belokan.

 

“Buuk tumbas”..

Dia menoleh, tersenyum. Menghampiri kami cepat-cepat. Dagangan yang disunggi di kepalanya tetap seimbang.

“di rumah sampean yang di pojok tah mbak?”

Wah, ibu ini kok masih hafal rumah saya ya?

“Dulu sampean sering beli kan. Waktu masih SD. Sekarang anaknya berapa? Umur berapa sampean sekarang?”

Gubrakk malah ditanyain umur hehhee. Malu lah buk udah jadi ibu 1 anak. Ternyata setelah itu sang ibu penjual bercerita bahwa ia sudah jualan bubur madura selama 26 tahun.

Wah, jualan rutin tiap hari selama 26 tahun? subhanallah. Telaten sekali.

Saya yang baru jadi buruh cetak selama 3 tahun harus lebih rajin ya. Gak boleh bosan. Sekakan-akan Allah menegur saya melalui ucapan ibu ini.

 

Kembali ke bubur. Bubur madura adalah bubur sumsum (terbuat dari tepung beras) dicampur bubur grendul (bulat2 dan manis, seperti bubur biji salak), ketan hitam, dan mutiara. Disiram kuah santan dan dikucuri cairan gula merah.

DSC00663

Ada tangan mungil yang gak sabar nyicipin buburnya hehhee.

Saat pertama kali menyendok, wah..Kuahnya gurih sekali, santan asli, bukan yang instan. Manisnya pas, tidak pakai pemanis buatan. Kalau ada pemanisnya kan meninggalkan after taste yang pahit, ya. Buburnya lembut.

Rasanya persis seperti dulu. Rasa yang sama saat saya memakannya, saat masih SD. Mungkin 18 atau bahkan 20 tahun lalu. Ibu penjual ini subhanallah sekali. Masih ingat langganan lama. Ya, dulu harganya cuma 100 rupiah per mangkok. Prnah saya kekki karena hanya punya 50 rupiah. Lalu balik ke kamar untuk mengorek orek celengan, hhehe.

Selain jualan bubur manis, ibu ini juga berjualan rujak serut. Pastinya pedas, kalo gasalah sih bahannya mangga muda (pencit).

DSC00662

Tuh keliatan kan ada cabe rawitnya.

Beliau juga berjualan lemet, kue tradisional yang harganya cuma 1000 rupiah. Kalo bubur ini harganya 5.000/mangkok.

Ibu penjual ini asli madura lho. Tapi hebatnya beliau pintar berbahasa jawa halus.

Saladin makan cuma 4-5 suap. Yah, kondisinya memang kurang sehat. Dari pagi badannya demam. Dan selera makannya menurun.

DSC00664

Ini aksi Saladin saat akan makan sendiri.

Hmm, kenangan makan bubur madura yang manis ini memaniskan hari saya yang lelah. Karena Saladin demam dan prt mudik.

Advertisements