Glek! Alhamdulillah!

 

Walau hanya seplastik kecil es marimas namun mampu meringankan dahaga. Rasanya ku sudah lupa kapan terakhir kali aku makan.

 

Kepala yang berputar-putar ini seakan tak mau kompromi dengan tanggung jawab yang harus kuemban tiap hari.

 

Ya Allah, mengapa pandangan mataku menjadi kuning? Semuanya berkelebat dalam pikiranku.

“Santriku belum makan”

“Pembangunan pesantren belum selesai”

“Sedang apa Bunda disana? Apa beliau merindukanku di perantauan?”

 

Pandangan kuning perlahan menggelap.

 

Dan aku terbangun tujuh hari kemudian.

 

—masi ada terusannya tapi mikir dulu xixiix–

Advertisements