Kehamilan, apalagi anak pertama, adalah hal yang sangat ditunggu oleh pengantin baru. Menyemai harapan selama 9 bulan. Semoga kelak ia menjadi anak soleh. Tapi ketika Tuhan berkehendak lain, apa yang bisa kita lakukan?

Saya hamil ketika baru menikah selama 3 bulan. Alhamdulillah tidak perlu menunggu lama. Setelah hasil di testpack menunjukkan 2 garis, kami segera periksa di dokter kandungan. Alhamdulillah ternyata sudah 4  minggu usia kehamilan ini. Dokter menganjurkan untuk minum susu untuk ibu hamil, dan tak lupa mengkonsumsi minum vitamin dan penambah darah . Untungnya tak ada wejangan atau larangan apa-apa dari dokter.

Hamil muda ini tak membuat saya mual mual atau morning sickness. Biasa saja. Bahkan tidak ngidam apa-apa.

Tapi suatu sore saat haus sekali saya minum vitamin yang dilarutkan dalam air. Adik yang mengamati perbuatan saya tiba tiba mengambil bungkusnya dan membaca dengan super teliti.  Ia berbisik, “Kakak, ada tulisan bahwa tidak boleh dokunsumsi ibu hamil”. Rupanya vitamin itu mengandung pemanis buatan. Waduh, bagaimana ini? Sudah terlanjur masuk perut nih. Semoga tidak apa apa. Dan memang tidak ada reaksi apa apa di perut maupun rahim, alhamdullillah.

Karena merasa sehat sehat saja, walaupun sedang hamil saya ngotot membantu usaha suami di bidang percetakan. Di tahun pertama usaha ini memang banyak sekali yang harus dilakukan, berpromosi, mencetak stiker dan label pesanan, lalu mengantarkan ke rumah klien. Sibuk. Menjelang deadline selalu hiruk pikuk. Tak jarang saya ikut melekan, melipat amplop undangan atau memotong kertas label.

Seperti siang itu, 26 januari 2011. Saya duduk di boncengan sepeda motor, menemani suami mengantar pesanan klien. Lewat jalan tembus yang berliku plus bonus tanjakan dan polisi tidur. Sungguh saya tak tahu jika orang hamil muda tidak boleh terlalu capek apalagi naik motor dan melewati jalan bergeronjal. Sampai di rumah, kantuk meraja dan akhirnya saya tertidur di kamar. Saat terbangun dan akan mandi,  kok ada bercak darah ? Dengan panik saya gugling tentang hal ini. Ternyata wajar karena saat embrio menepel di rahim, bisa terjadi sedikit pendarahan. Tapi saat senja menjelang, pendarahan semakin banyak. Terpaksa harus mengenakan pembalut. Lalu. Krak! Perutku keram melilit lilit. Apa yang terjadi pada rahimku?

Kami bingung, tak tahu tempat dokter wanita yang praktek malam ini. Akhirnya suami berinisiatif mengantar ke RSIA yang berada tak jauh dari rumah.  Untungnya saya sudah punya nomor anggota, karena pernah melakukan pemeriksaan pre-marriage disini. Tapi antrian itu mengular panjang. Sementara perut terus kesakitan, keram, rasanya seperti orang haid. Dan ketika akhirnya bertemu dokter kandungan itu, sudah sepi, pasien terakhir. Jam dinding menunjukkan pukul  10 malam.

Dokter wanita itu langsung menanyai keluhanku, kujawab ada pendarahan di awal kehamilan. Saat bangkit dari kursi dan akan naik ke ranjang pemeriksaan, ternyata tanpa disadari bagian belakang rok sudah bersimbah darah. Dokter segera memerintahkan suster untuk mengambil alas.

Rasanya dunia runtuh saat usg, yang terpampang di layar adalah hilangnya kantong kehamilan, calon embrio. Tak dapat diselamatkan lagi karena sudah peluruhan sempurna. Pandangan mata menjadi merah, merah. Semerah darah yang  terpancar deras. Membuatku lesu dan lemas. Calon bayi di rahimku ternyata lebih memilih untuk bertemuNya terlebih dahulu.

Setelah usg akhirnya ketemu penyebab saya keguguran. Ternyata ada penyakit yang bersarang di rahim. Miom, sejenis tumor jinak. Penjahat yang diam diam menyerap nutrisi dari janin. Lalu dokter cantik itu menenangkan hatiku. Katanya, “kau masih muda, masih banyak kesempatan, bersabar saja”. Lalu ia memberi resep penambah darah.

Kabar baiknya saya tak perlu dikuret karena sudah peluruhan sempurna. Saat pulang, kami hanya terdiam di mobil. Sesampainya di rumah mama bertanya “ada apa” namun saya malah berlari ke kamar, menumpahkan segala kesedihan. Dan kesedihan itu semakin dilengkapi dengan rasa yang ada di rahim, melilit, mencengkeram, darah banyak sekali memgalir, sampai saya nyaris pingsan. Sudah ganti pembalut berkali kali tapi masih berbekas. Sungguh saya nyaris tak bisa tidur semalaman. Alhamdulillah suami ikut melekan. Menguatkan mental. Sampai akhirnya tertidur, lalu terbangun dengan perasaan hampa. Mengelus perut yang kembali rata.

Saya tak percaya bahwa sudah kehilangan calon anak. Padahal sudah tersedia nama baginya, Raihan Fuqaha. Ahlil fiqih yang sewangi surga. Saat mengeja namanya, air mata kembali mengalir di pipi, oh anakku.
Hari hari saya lalui dengan tersenyum, namun menahan tangis dan nyeri perut. Pendarahannya masih banyak. Beberapa teman mencoba menguatkan hati saya. Saya bersyukur ternyata masih banyak yang perhatian dan empati.

Kesedihan ini membuat saya hampir kehilangan semangat hidup. Saya tetap meminum susu khusus ibu hamil yang masih tersisa banyak, sekedar memaniskan hari hari yang terasa pahit. Lalu bertanya-tanya, mengapa aku begini? Mengapa begitu? Apa aku tidak layak menjadi ibu, sehingga ia dicabut dari rahimku?

Ayah yang melihat saya belum move on dan masih murung akhirnya mengajak untuk pijat di Turen-Kabupaten Malang. Terapisnya sudah sepuh, tapi antrinya lumayan banyak. Pijatnya bukan pijat biasa melainkan akupressure. Setelah dipijat, terapis berkata bahwa rahim saya agak miring, karena dulu pernah jatuh terduduk, dan akhirnya dibetulkan. Setelah itu saya diberi secarik kertas berisi berapa botol jamu yang harus diminum. Ya, jamu kunyit putih dan lempuyang harus saya tenggak setiap hari.

Walaupun hidup sepahit jamu yang tercecap di lidah, namun saya harus legowo. Ikhlas, hanya mencoba ikhlas untuk menjalani hari hari pasca keguguran. Menghibur diri sendiri saat kutahu bahwa ia telah meninggalkanku terlebih dulu dan insyaAllah akan bertemu lagi. Bukankah setelah hujan pasti ada pelangi?

Setelah beberapa hari saya sadar bahwa ternyata Tuhan mengambilnya untuk memberiku pelajaran:
1. Jangan minum vitamin sembarangan, jika tidak direkomendasikan oleh dokter.
2. Miom yang dulu dicurigai ada di rahimku ternyata masih ada. Ya, sebelum menikah, saat pijat, terapis mencurigai ada benjolan di rahim. Akhirnya saya usg di sebuah RSIA, alhamdulillah tidak ada apa-apa. Ternyata saat hamil kecurigaan itu muncul dalam bentuk miom, dan membesar seiring dengan kehamilan.
3. Bisa ganti dokter kandungan, dokter yang dulu cewek sih, senior, tapi kok lebih cocok dengan dokter yang ini. Masih muda, berusia 30-an, tapi pintar, komunikatif, dan berempati tinggi pada pasien
4. Jam praktek dokter yang baru ini di malam hari, jadi bisa diantar suami. Kalau dokter yang dulu prakteknya pagi, jadi kalau mau kontrol harus berangkat sendiri ke RS.

Kuhirup udara dan mencoba membesarkan hati. Berharap yang terbaik akan skenario yang diberikan oleh-Nya. Ketika kau ikhlas, Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.
Oh Raihan, semoga nanti kita bertemu di surgaNya. Amin

Advertisements