“Apa? Jumlah uangnya kurang? Bagiamana caraku melunasinya? Oh Tuhan, tolong hamba !”
Mungkin itu yang terucap dari bibirnya. Saat kenyataan dan harapan tak beriring bersamaan. Ini kisah lengkapnya.

Seorang kerabat pernah berkata . Sepuluh tahun lalu ia menikahkan putrinya dengan laki-laki pujaannya. Mereka sudah pacaran selama tiga tahun. Sesuai adat jawa, acara akad nikah dan resepsi diadakan di kediaman mempelai wanita. Tentu saja seluruh biaya pesta  juga ditanggung oleh pihak wanita.

Pihak wanita berkumpul dan menghitung hari baik (sesuai adat jawa). Setelah ketemu, mereka berembug, akan mengundang siapa saja. Lalu saat akan mengkonsep acara tiba-tiba tercetus ide spektakuler. Bagaimana jika diadakan pesta selama 3 hari 3 malam. Wuihh seperti putri kerajaan.

Pesta besar-besaran ini diadakan sesuai dengan permintaan mempelai wanita. Alasannya, karena ia anak perempuan satu-satunya, cantik sendiri.  Menikah hanya dilakukan sekali seumur hidup, jadi harus spesial dong. Lagipula kakak laki-lakinya juga baru menikah seminggu lalu. Jadi sekalian diadakan acara ngunduh mantu (pesta pernikahan di pihak lelaki).

Lelaki-lelaki memasang penjor dan tiang pancang, panggung didirikan. Tenda disiapkan, kursi ditata. Semerbak harum aroma ayam dan ikan goreng menggoda. Sungguh lezaat. Kelezatan itu makin  sempurna ketika diadakan panggung dangdut dan rock. Musik menghentak. Menghibur semua tamu yang datang.

Musisi itu bekerja tanpa bayaran, untungnya. Karena mereka berteman baik dengan mempelai laki-laki. Ya, dulu mempelai laki-laki berprofesi sebagai gitaris aliran rock  dan punk.

Saat pesta usai. Saudara dan kerabat berpamitan. Tenda sudah kembali ke tempat persewaan. Piring-piring tercuci. Lalu hal mendebarkan terjadi. Apa itu? Membuka peti.

Peti berisi uang amplopan dibuka dengan penuh harap. Sepuluh, dua puluh, lima puluh, seratus ribu. Dapat berapa juta? Ah, ternyata tak cukup. Berapa kali menghitung pun tetap  sama. Hasilnya tak sebanding dengan pengeluaran untuk rias pengantin, sewa tenda, membeli makanan, dan sebagainya.

Padahal sebulan sebelum acara, sang ibu berhutang kesana kemari demi memodali acara pesta. Ia berpikir, nanti uang amplopan dari para tamu bisa menutupi seluruh hutangnya. Tapi kini harapannya sia-sia. Bahkan hutang itu baru bisa terbayar  bertahun-tahun kemudian. Sampai-sampai ia dimarahi banyak orang.

Sungguh antiklimaks. Saat pesta makan besar dan berfoya-foya. Setelah pesta jadi sangat menderita. Tak ada lagi nasi punel yang mengepul dan ikan goreng yang menggoda selera. Hanya tersedia ubi, singkong, dan pisang yang jadi pengganjal perut.  Padahal saat itu harga beras hanya berkisar 3.000 rupiah per kilogram. Kasihan anak perempuannya yang sedang hamil, gizinya kurang mencukupi.

Inilah yang disebut mbendol mburi. Dalam falsafah jawa, mbendol mburi berarti sesuatu yang besar di belakang. Seperti bentuk sebuah blangkon (topi khas orang jawa) . Depannya mulus, belakangnya menonjol dan besar.

Apanya yang besar? Masalahnya.Penyesalan dan problem terjadi di kemudian hari. Awalnya sangat nikmat, akhirnya tersesat.  Seperti bom waktu. Saat bom itu meledak, semua jadi berantakan. Lalu terperosok ke dalam jurang hutang yang dalam.

Andai waktu bisa diputar kembali. Andai tidak terburu nafsu dan meminjam uang demi lancarnya acara resepsi. Mungkin tak ada kejadian pahit seperti ini. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Terlanjur, tak bisa diulangi. Menyedihkan bukan?
Penyesalan memang selalu ada di akhir cerita. Jika ia berada di awal, maka namanya bukan penyesalan.

Jadi anda bisa mengambil kesimpulan sendiri kan dari cerita ini?

Tulisan ini disertakan dalam kontes GA Sadar Hati – Bahasa Daerah Harus Diminati

banner sadar hati ga belalangcerewet

Advertisements