Kriing! Beberapa hari lalu telepon rumah berbunyi. Ternyata dari mbah Uti. Aih, mengapa tiba-tiba beliau menelpon? Ternyata Tante saya yang bermukim di Jepara mengalami kecelakaan.

Sebuah minibus yang supirnya ugal-ugalan menabrak mobil milik Tante. Bagian depan mobil rusak parah. Untung Tante dan Om yang berada di dalamnya tidak apa-apa. Stelah rontgent, tidak keliahatan ada patah tulang atau luka dalam. Alhamdulilah.

Setelah peristiwa ini ada beberapa komentar dar orang yang meihat kecelakaan. Ada yang bersyukur karena penumpangnya tidak terluka. Ada yang bilang pengemudinya bisa ngebut karena ia bekerja di perusahaan bus yang di bekingi oleh aparat. Yang paling parah, ada yang berkomentar, “sayang sekali, mobil mahal seperti BMW ini rusak parah”.

Aih, mengapa ia fokus pada BMW? Memang, bersyukur saat itu Tante naik BMW, bukan mobil lain. Karena body mobil kuat menahan benturan dan airbag berfungsi secara maksimal, jadi nyawa beliau dan Om terselamatkan. BMW itu menjadi tameng. Tapi mengapa disayangkan? Bukannya fokus pada kedua nyawa yang selamat.

Hal ini membuat saya tercenung. Semahal apapun harga sebuah mobil mewah, tak bisa melebihi harga sebuah nyawa. BMW masih bisa diperbaiki di bengkel. Tapi kalau nyawa? Harga dua nyawa, Om dan Tante, tentu saja jauh lebih mahal daripada harga mobil.

Betapa Allah maha besar.

Advertisements