Tadi sore saat jalan jalan bersama putra saya, tak sengaja berpapasan dengan Yanti. Dulu, saya bisa bercerita banyak dengan tetangga yang satu ini. Tapi sekarang hanya bisa sekedar menyapa, dengan sedikit was-was. Why? Karena ia dulu pernah…..depresi berat.

Jadi ceritanya sekitar 3 tahun lalu ia merantau ke Batam, dan menikah di sana. Tahun lalu ia kembali ke Malang, ke rumah orangtuanya, bersama anak perempuan dan suaminya. Yanti baik-baik saja (mentally) sampai ia mendengar kabar bahwa mantan pacarnya meninggal.

Sejak saat itu ia merindukan mantannya, sering berteriak-teriak, bahkan kabur ke rumah mantannya dua kali. Yang pertama, ia lari dan menghilangkan uang suaminya (jutaan rupiah) yang dibawa dalam tas. Yang kedua, belum sampai di rumah mantannya, ia (naudzubillah, astaghfirullah) kumat di depan minimarket sambil membuka bajunya. Untung ada kakak laki-lakinya yang menyelamatkan.

Penyebab depresi beratnya (saya tak mau mengatakan ia “gila”) karena beberapa hal. Pertama, ia shock karena tak bisa bertemu dengan cinta pertamanya yang sudah jadi almarhum. Kedua, karena ia tak bisa menikah dengan pria itu. Ketiga, ia sudah menikah, namun baru nikah siri. Kasihan, anaknya belum memiliki akte kelahiran.

Aslinya mereka kembali ke malang itu untuk melegalkan pernikahan. Dan sang suami berinisiatif mengadakan syukuran kecil-kecilan. Tapi, belum sempat terwujud, uang itu sudah dihilangkan Yanti.

Sedihnya, keluarganya menganggap Yanti itu diganggu makhluk halus. Pernan mereka tertipu, oleh dukun yang mengaku bisa me-ruqyah. Hasilnya nol besar, dan jutaan rupiah melayang. Alhamdulillah ada tetangga lain yang bergerak menolong, membawanya ke sebuah panti khusus orang depresi di Kabupaten Malang. Setelah pengobatan disana, ia dikembalikan karena….hamil.

Yanti memang sudah bisa mengenali orang-orang di sekitarnya, mungkin masih ada memori yang tersisa. Semoga pengobatan itu berhasil, kasihan bayi yang dikandungnya, kasihan anak pertamanya yang masih kecil. Dan saya salut kepada suaminya karena tetap setia mendampingi dalam keadaan apapun.

Moral of this story (sekalian self reminder juga)

1. Jangan berlebihan dalam memberikan cinta kepada pacar. Eitts, emang gak boleh pacaran (kata Ustad Felix Siauw: Udah Putusin Aja)

2. Harus ikhlas dalam keadaan apapun

3. Jangan mau diajak nikah siri

Advertisements