Merah. Lengket. Cahaya menyilaukan mata. Pertama kali kuhirup udara. Dan saat dokter menggendongku, keluar tangisan pertama. Mereka gembira. Anak perempuan! Berkumandang adzan dan iqamah di telinga. —1986–

Panas. Terik. Pulang sekolah rasanya ingin bersantai di kamar. Ups! Ada sesuatu yang merayap. Oh, tidak! Bloody womb! Anggarap sari. Mulai hari ini aku telah aqil balik. –2000–

Mengapa tak kupedulikan tanda-tanda di tubuh? Mereka berhak istirahat. Tapi sudah mepet masa tenggat. Klien minta dibuatkan dengan cepat. Saat kubangun ia mengalir. Deras. Perut mengencang. Ah! Aku ingat! Dua hari ini ada bercak! Mengapa sekarang bertambah? Rumah sakit! Abi, aku tak tahan!

Dokter cantik itu menenangkan hatiku. “Kau masih muda, punya banyak kesempatan”. Innalillahi! Anakku, kau tak terselamatkan! Hanya satu setengah bulan di kandungan. Dan aku pulang dengan air mata berlinang. –26 januari 2012–

nb: Menunggu peristiwa berdarah berikutnya, insyaAllah november.

Advertisements