Kuning. Aku sangat menyukai warna kuning. Setiap hari aku menata beberapa kuntum bunga dalam vas. Semua berwarna kuning, bunga matahari, mawar kuning, dan tulip kuning. Gaun kesayanganku berwarna kuning. Serasi dengan kalung yang melingkar di leherku, berbandul bulan sabit warna kuning. Bulan lalu, neneku menghadiahkan sepatu berwarna kuning. Taplak meja di ruang tamuku berwarna kuning.

Di sekolah, aku selalu menenteng tas ransel berwarna kuning. Berisi buku-buku yang juga bersampul kuning. Penggaris, pensil, dan alat tulis lain, semua berwarna kuning. Saat Bu Guru menyuruhku menggambar mawar merah, aku menggambar warna kuning. Semua krayonku berwarna kuning! Aku terobsesi dengan benda-benda berwarna kuning!

Teman-temanku menganggapku tak biasa, bahkan ada yang memanggilku orang gila. Aku tidak gila, aku hanya terlalu mencintai sebuah warna. Untungnya tak semua teman menghina. Mereka mengerti obsesiku, dan selalu mengajakku bicara. Namun, ternyata persahabatan terkikis oleh umur manusia.

Usai lulus, setiap hari aku hanya duduk di rumah, berteman sebatang bunga matahari. Kemana teman-temanku? Mereka tenggelam dengan kesibukan kerja. Seolah-olah menjadi budak harta. Tak ada waktu bersosialisasi dan bergembira. Namun kuning tetap memancarkan kehangatan. Menemaniku sehingga hari-hariku bercahaya dan tak lagi suram.

****

Suatu pagi, seorang pria berkunjung. Ia sangat mengagumi bunga-bunga kuning yang aku pajang di jambangan. Setelah meneguk sirup jeruk yang kuhidangkan, ia menerangkan maksud kedatangannya. Rupanya, ia orang penting di daerahku. Seorang pemimpin dari kelompok penyambung asa. Kumpulan orang yang saling membantu untuk mencapai cita-cita!

Aku seakan-akan terhipnotis ketika mengikuti langkahnya. Ia memasuki sebuah rumah di daerah terpencil, pinggir kota. Di sana berkumpul beberapa anggota, mereka senang melihat kedatanganku. Aku ingin mengenalkan diri, namun mereka menyebutkan nama dan pekerjaan terlebih dahulu. Rona muka mereka cerah, secerah warna kuning. Dengan berapi-api mereka menceritakan kehebatan sang pemimpin.

Belum sempat aku berbicara, sang pemimpin memanggilku dari kamar sebelah. Teman-teman baruku mendorongku untuk masuk ke sana. Uh, tak ada cahaya, aku meraba-raba mencari tempat duduk. Suara desir angin membangunkan bulu kudukku.

Kemudian pemimpinku memulai percakapan. Ia bertanya, “apa hal yang paling kau suka?”. Lantas aku menjawab, “warna kuning”. Lalu beliau menanyaiku lagi, “apa kau mencintai negaramu?”. Tentu saja aku menjawab iya. Beliau berbisik lirih di telingaku, “kau bisa menyelamatkan negaramu sekaligus bersatu dengan warna kesukaanmu. Besok, ikuti aku menuju Puri di distrik Kuning”. Aku terdiam, mencerna kata-kata beliau. Tapi aku tak dapat berpikir, dan langsung mengiyakan perintahnya.

**********

Esoknya rombongan kami naik taksi menuju Puri. Aku beruntung, karena pemimpinku hanya mengajak aku dan Nur Hasdi. Teman-temanku yang lain masih menunggu giliran, mengantri agar permohonan mereka diwujudkan.

Akupun memasuki halaman Puri. Bangunan yang aneh, pikirku. Di bagian luar dan dalam, jarang terlihat orang dari negriku. Aku terpukau melihat keindahan Puri, sementara pemimpinku memberikan uang pada petugas front office.

Lalu pemimpinku membimbing Nur dan aku menuju kamar. Di kamar, pemimpin mempersilakan aku beristirahat. Sementara beliau dan Nur mengeluarkan bungkusan dari dalam kopor.

Mulutku terkunci rapat ketika mereka mencampur bubuk aluminium dan besi oksida. Seribu tanda tanya berkecamuk di kepala, namun aku menahan lidahku untuk bertanya. Peraturan dalam kelompokku harus ditegakkan, jika aku bertanya satu kata saja, maka pupus sudah harapanku. Aku harus mengundurkan diri dari kelompok penyambung asa ini.

Mereka lalu menyodorkan kain putih ke pangkuanku. Kain yang aneh, bentuknya seperti kutang. Pemimpinku menalikan kain itu ke dadaku dan mengisinya dengan ramuan yang tadi ia buat. Ia berbisik, “besok waktumu telah tiba. Kau akan abadi, melebur menjadi satu dengan warna kesukaanmu”. Jantungku berdebar-debar, tak sabar menunggu hari esok.

*******

Esoknya, aku dan Nur berangkat. Aku turun ke bagian bawah puri , sementara Nur berjalan menuju Puri di seberang jalan. Di tengah kerumunan orang, keringat dinginku mengalir. Sedikit keraguan muncul di benakku, benarkah pemimpinku bisa membawaku manunggal bersama kuning?

Namun aku tak bisa mundur. Kutarik nafas panjang untuk menenangkan diri, kupejamkan mata menunggu perintah sang pemimpin yang kucintai. Beliau mengaktifkan detonator, dan BUM! Cerebrumku terpisah dari batok kepala, kornea melepaskan diri dari mata, jaringan lemak di pipiku menari bersama tetesan darah. Terbanglah aku ke alam keabadian.

Jika kau membaca kisahku, jangan bersedih. Aku tak ingin membalas dendam pada pemimpinku yang telah berkata tidak jujur. Semoga kau tidak terjebak dalam rayuan manis pemimpinku.

 

cerpen ini pernah dimuat di koran malang pos, tahun 2009, lupa edisi berapa

Advertisements