Hari Senin tanggal 22 Januari 2018 kemarin, saya berkesempatan naik bus MACITO (Malang City Tour) bersama teman-teman sekelas di TK-nya Saladin. Sebenarnya, sang mama gak boleh ikut. Tapi saya malah disuruh ikut, karena harus jagain Saladin yang super aktif. Makasih ya nak, Mama diajak jalan-jalan.

Kami berangkat jam 7:30 pagi dari parkiran Tawira (Taman Wisata Rakyat) di belakang Balai Kota Malang. Bus bertingkat dua yang berkapasitas 40 orang dewasa langsung diserbu anak-anak. Karena penumpangnya kecil, bus ini bisa memuat 70 anak TK.

Lenovo_A1000_IMG_20180122_072817.jpg

Selfi dulu kita

Bus melaju melewati balai kota, menuju Jalan besar Ijen. Di sana, bus berhenti di depan Musium Brawijaya. Anak anak turun dari bus, lalu foto bersama. Sayangnya, Saladin tantrum karena dilarang naik di bagian atas bus. Jadi gak ada fotonya, hehehe.

Lenovo_A1000_IMG_20180122_082543.jpg

Ini dia bisnya. Banyak anak menamai MACITO dengan Rogi, karena warnanya hijau, mirip bus Rogi di serial Tayo.

Karena tidak tega, akhirnya salah satu guru mengizinkan Saladin naik ke atas bus. Saya pangku Saladin dan memeganginya erat erat. Bagi anda yang membawa anak kecil,jangan khawatir, karena di bagian bawah dan atas bus ada seatbelt di masing masing kursi. Pagar pengaman di bagian atas bus juga lumayan tinggi, sekitar satu meter. Jadi aman, walau anak-anak dilarang keras berdiri dan harus diawasi oleh orang dewasa.

 

Lenovo_A1000_IMG_20180122_083530.jpg

Ini pemandangan bagian atas bus. Yang terfoto itu salah satu guru Saladin, namanya Bu Fitri. Cantik ya :).

Kami melanjutkan perjalanan mengelilingi pusat kota Malang, berputar di dekat Gereja Jl Ijen, melewati Jl Bareng Kartini, dan berbelok ke arah Pasar Besar Malang. Di atas bus rasanya semriwing. Sejuk dan menyegarkan, apalagi cuaca pagi itu sangat cerah.

Akhirnya bus kembali lagi ke belakang balaikota. Perjalanannya hanya sekitar 90 menit saja. Saladin menangis karena tidak mau turun dari bus, hehehe.

Kalau mau naik MACITO, datang saja ke loketnya di dekat parkiran Tawira. Bukanya pukul 7 pagi, dan bus ini gratis. Tapi kalau mau naik rame rame dengan rombongan sekolah, harus booking dulu minimal 3 bulan sebelumnya.

Kamu suka naik bus? Kalau berwisata ke Malang, naik MACITO yuk!

Advertisements

Desember selalu disambut spesial karena ada ulangtahun saya, dan beberapa hari kemudian ada hari ibu.

Ibu

Bila menyebut kata ibu, mungkin dulu saya akan merasa sakit. Nyeri hati ketika tiap pagi ditinggal bekerja. Sampai saya trauma melihat pintu terbuka. Rasanya ingin nutup saja.

Selama hampir 30 tahun, hubungan dengan ibu (saya menuebut beliau ‘mama’), tak kunjung membaik.

Penyebabnya apa?

Karena saya merasa beliau tak pernah memahami saya.

Baru beberapa bulan hubungan kami membaik. Itupun setelah pisah rumah

Ternyata jarak dan waktu bisa membuat mata ini tertutup oleh cahaya cinta. Rasa sayangnya diungkapkan dengan caranya sendiri.

Beliau tiba tiba memberi laptop di hari ulangtahun saya.

Saat lebaran, tiba tiba ada kiriman sepanci opor ayam, dari katering langganan. Beliau yang memesankannya. Takut kalau saya tak sempat memasak, karena punya balita super aktif.

 

Dan masih banyak lagi kebaikan lain yang sempat tertutup oleh prasangka.

 

Prasangka bahwa hanya anak lelakinya yang disayang. Hanya ia yang diberi perhatian, karena ia lebih mampu untuk memberi mama mesin cuci dan laptop baru.

Ternyata kado terindah dari anak perempuan satu satunya adalah..

Kata ‘YA’.

Jika ada konflik, jangan makin menjauh. Sediakan waktu untuk bersama. Lebih banyak mendengar daripada bicara. Singkirkan ego sejenak, dan lihatlah hasilnya.

Selamat hari ibu. Untuk ibumu. Dan untukmu yang menjadi ibu panutan bagi anak-anakmu.

Kemarin ada berita, seorang pemuda bunuh diri karena cintanya tidak direstui oleh orangtua. Lalu berita itu jadi viral. Apa yang terjadi?

Ada yang malah menertawainya. Men-share berita itu lalu mention temannya, ‘kamu mau bunuh diri gak?’.

Kemudian ada foto seutas tali yang digantung di atap, seolah-olah jadi alat peraga bunuh diri.

Astaghfirullah. Ingin nangis rasanya. Bunuh diri memang dosa, tapi apa ia layak untuk dijadikan bahan candaan?

Sudah lupakah kita saat ada orang yang live suicide di fb? Yang komentar bukannya melarang, malah menyemangati. Akhirnya ia megakhiri hidupnya sendiri. Untung saat itu saya gak lihat videonya, hii.

Apa kau anggap orang yang ingin suicide itu hanya main-main dan cari perhatian?

Bisa jadi mereka benar benar depresi dan butuh pertolongan. Jika kita gak bisa menolong mereka untuk memecahkan masalah, minimal beri waktu untuk mendengar.

Untukmu yang sedang galau, bahagia bisa tercipta dari hal sederhana. Percayalah, kau bisa bahagiakan diri sendiri. Nyawa ini terlalu berharga untuk diakhiri sendiri.

 

Pernahkah hiatus alias vakum? Dalam hal ini, saya berbulan-bulan tidak menulis di blog. Di sini maupun di blog satunya yang sudah TLD.

Katanya mau jadi penulis, jadi blogger profesional? Kok gak nulis? Plaaak! Slap to myself.  Memang,terlalu banyak excuse atas kelalaian ini. Salah satunya adalah perkara gadget. Saya terlalu combonk untuk belajar menulis pakai hp. Padahal sudah banyak blogger lain yang mahir menulis via gawainya. FYI, laptop saya yang dibeli tahun 2008 kondisinya sudah mengenaskan. Kabelnya terkelupas, abjadnya sudah diambil paksa oleh…Saladin.

Saladin juga menjadi salah satu alasan vakumnya dua blog utama saya. Dua minggu sebelum ramadhan, saya mendapat pinjaman laptop dan bertekad menulis lagi. Lalu..hening. Tiga menit kemudian…”Mama..TOLOONG!”. Hah? Di mana Saladin?

Ternyata ia sudah berada di luar rumah, loncat jendela. Di lantai DUA. Huaaa. Untung dia menginjak genteng, jadi ada pijakannya. Astaghfirullah.

Itulah nikmatnya punya anak super aktif, harus siaga setiap saat. Tapi tetap saja ada yang harus dikorbankan. Salah satunya adalah kegiatan menulis. Saat dia tidur, maunya saya mencicil nulis 1-2 paragraf. Tapi seringnya sudah teler dan ikut ketiduran. Kapan nulisnya? Mewek dehh.

Blog TLD yang domain-nya hadiah dari seorang kawan yang baik hati ini bikin saya senang sekaligus stress. Senang karena akhirnya punya dot com sendiri. Gak perlu digusur gusur kayak jaman multiply dulu.

Tapi saya jadi terpacu untuk menulis. Duh, nulis apa ya minggu ini? Berapa viewer dan commentatornya? Domain authority ku berapa? Dll, dst. Jadinya saya hanya memikirkan SEO.

Dan lupa akan kesenangan menulis.

Terseret dalam kebosanan. Menulis-share link, balas komen-balik BW. Begitu terus.

Lalu saya analisa. Hmm, kalau bosan menulis di blog, harusnya saya banting setir nulis cerpen untuk media lagi. Atau menulis di wattpad. Atau di instagram lalu share di tumblr.

Senin depan Saladin sudah masuk TK. Jadi saya punya waktu 2-3 jam untuk me-time dan menulis. Horee..

Semoga bisa istiqamah menulis lagi.

 

Dulu saya pernah dapat cerita dari seorang ibu, kalau penghuni RSJ itu cantik dan ganteng. Mengapa mereka gila sehingga harus dirawat di sana? Karena putus cinta. Oh, cinta, deritanya tiada akhir..

Jadi ternyata gila dan tidak gila itu batasnya setipis kertas. Jika anda nerimo, legowo, ikhlas dengan segala cobaan yang dilalui, insyaAllah tidak akan jadi gila. Bahkan bisa tambah maju dan tegar. Bukankah Allah sellau mendengarkan doa hamba-Nya?

Tapi ikhtiar itu tidak semudah membalik telapak tangan. Butuh waktu dan proses, serta penerimaan diri. Nerimo, itu bahasa jawanya.

Ikhlas. Hanya lima huruf tapi apa sudah dilakukan? Ikhlas beda dengan cuek lho. Kalau cuek bernada negatif. Anda bisa cuek dan tutup kuping, tapi hati dongkol. Anda ingin ikhlas? Saya belum 100% bisa. Ajarin yaa..

Peringatan: jangan dibaca! Nanti ikutan gila!

Saya pernah baca bahwa setiap orang punya potensi untuk menjadi gila. Gak percaya? Lihat ke Mall, ada yang menenteng dua puluh tas belanja (gila belanja). Ada yang suka jalan jalan ke luar negeri, demi menonton klub bola kesayangannya (gila bola). Si gila akik suka berburu sampai ke Martapura. Dan masih banyak contoh lainnya. Anda masuk yang mana? Segila gilanya orang gila gak akan ngaku kalau dia gila.

Kadang kegilaan akan sesuatu juga bermanfaat. Si gila belanja barang branded bisa jadi konsultan fashion atau pembelanja pribadi. Anda gila buku? Buku yang menumpuk dijual aja, jadi book seller. Ada pula orang yang gila kereta api, lalu dia menikah di atas KA. Dan masuk rekor MURI. Asyik kan! Yuk jadi orang gila…Eh, maksudnya yuk jadi gila yang positif.

‘Dibawa lari?’. Hanya itu yang bisa saya ucapkan, saat suami memberi tahu bahwa mesin cetak menghilang dari workshop. Hal itu terjadi di tahun 2014, namun masih membekas sampai sekarang. Kehidupan keluarga kecil kami bagai jatuh ke jurang. Dan kami masih bergelut dari kejaran debt collector.

Setelah tiga tahun membuka percetakan, akhirnya kami membeli mesin cetak. Tapi semua kandas saat seorang partner menggondol mesin itu. Padahal kami sudah membelinya, tunai. Dia tak punya hak untuk membawa pergi, seenaknya. Sampai sekarang begundal itu menghilang ditelan bumi.

Celakanya, uang untuk membeli mesin cetak itu adalah hasil berhutang di bank. Tiap bulan kami pontang panting membayar 1,5 juta. Tanggal 23 seakan akan jadi kiamat, karena terlambat bayar sehari saja, debt collector akan meneror.

Suami akhirnya mencari pekerjaan sampingan. Dia pernah jadi karyawan pabrik karet, tukang sembelih ayam, bahkan kuli bangunan. Uang sudah terkumpul, tapi percetakan ketereran. Akhirnya Royal Corps Percetakan ditutup sejak awal tahun 2016.

Uang, uang, dan uang
Hanya itu yang saya pikirkan. Kapan kami bisa bebas hutang, dan mengontrak rumah sendiri? Saat ini Mama kandung masih berbaik hati menampung kami. Tapi sampai kapan?

Jika saya kerja kantoran, tak ada yang sanggup menjaga Saladin yang super aktif. Mau mengajar pun tak punya akta 4.

Akhirnya saya hanya bisa menangis di kamar, berteman lantunan ayat suci. Sibuk menyalahkan diri sendiri, betapa bodohnya aku! Lebih baik menyusul alm Uti ke alam baka.

Mungkinkah ini yang dinamakan depresi? Saladin saya pukul hanya karena ia melakukan kesalahan kecil. Dan saya mulai berimajinasi untuk mengambil pisau, lalu menancapkannya ke punggung suami, karena dia yang membuat saya menderita. Tidaaak !

Untung banyak teman di dunia nyata maupun dunia maya yang mendukung. Mereka mengirim lagu penenang, bahkan ada yang memberi hadiah buku motivasi. Depresi bisa dilawan, asal saya bisa menghentikan serangan cemas, dan mau berubah jadi lebih baik.

Alhamdulillah sekarang saya kembali menemukan rasa percaya diri setelah mengajar. Seorang rekan blogger mengajak saya jadi bagian di sebuah kursus bahasa inggris online. Semangat murid-murid untuk belajar membuat saya sadar. Bahwa motivator terbesar adalah diri sendiri. Kebahagiaan sejati itu ada di hati. Hati yang tetap sabar, saat badai mendera.